Ketika Keluraga tidak lagi jadi "Prioritas karena Hutang Budi yang menurutnya lebih "pantas"
Cerita menarik dari sahabatku yang bernama rahma. Ia diajak ibunya ke cafee untuk bertemu sahabatnya yang bernama ibu nur. Mulanya rahma males mengikuti ajakan ibunya karena ia ingin menikmati waktu luang dihari libur dan sebenarnya ada alasan yang paling mendalam yaitu "karena inu Nur lah ibunya lebih memprioritaskannya dari pada keluarga" tapi disisi lain ia merasa kasihan sama ibunya nanti siapa yang akan menemani ibunya? Akhirnya Rahma mengiyakan ajakan ibunya.
setelah sampai ditempat, ibu langsung memeluk ibu Nur dan keduanya asyik dan larut dalam obrolan. dan kalian tahu kan rahma mau ngapain? Ya! dia menemukan nyamanya sendri dengan Smartphone.Tak ada sapaan hangat atau pertanyaan basa basi untuk rahma. Keadaan ini sudah diprediksi oleh rahma sebelumnya. Tapi ya mau gimana lagi masa mau melawan sama orangtua? tapi ada rasa cape dalam benaknya....Mau sampai kapan ini terjadi? apalagi ia anak sulung yang pasti kepikiran apasih yang bisa perbuat agar rumahnya kembali utuh dan hangat lagi. Dan dampak yang sudah ada sikap bapak yang sini ke ibu dan seolah diamnya adalah capek terbesarnya. kalau sudah seperti ini cara memperbaikinya seperi apa?. Pertanyaan dan unek unek rahma yang selalu berisik dikepala. Andai kalia ada diposisi rahma apa yang akan dilakukan untuk keluarga kalian guys?
Sebenarnya membantu, berbagi sama siapapun itu ya boleh saja dan itu baik tapi tetap ada batasanya. Pernahkah kita merasa harus selalu bilang "ya" pada permintaan saudara atau teman, hanya karena merasa berutang budi dimasa lalu? atas nama budi, rela membatalkan janji jalan-jalan dengan anak atau melewatkan moment makan malam bersama keluarga demi membantu urusan orang lain.
Kita merasa sedang menjadi "orang baik" Namun, dimata sang anak, hal ini bisa terbaca sangat berbeda.
1. Perasaan "Aku Tidak Cukup Berharga"
Anak-anak belajar memahami nilai diri mereka sendiri dari seberapa perhatian yang diberikan orangtuanya. Saat orangtua terus menerus mendahulukan oranglain, anak akan menyerap pesan bahwa kebutuhan oranglain selalu lebih penting dari pada kehadiranya. Ini bisa menumbuhkan rasa rendah diri yang terbawa sampai dewasa.
2. Kehilangan kepercayaan (Trust Issue)
Momentum keluarga bukan sekedar kumpul-kumpul, tapi saat dimana ikatan kepercayaan dibangun. Jika orangtua batalkan janji demi urusan "balas budi" yang sebenarnya bisa ditunda, anak akan belajar bahwa janji orang tua tidak bisa diandalkan. Mereka mungkin tumbuh menjadi pribadi yang sulit mempercayai oranglain.
3. Merasa Harus Selalu Sempurna Untuk Dicintai
Beberapa anak akan mencoba "teriak" mencari perhatian dengan cara menjadi sangat berprestasi atau sangat penurut, berharap orangtuanya akan berhenti sibuk dengan orang lain dan melihat ke arahnya. Mereka terjebak dalam pola pikir bahwa cinta harus "dibeli" dengan pencapain, bukan didapat dengan cuma-cuma.
4. Meniru Pola "People Pleaser"
Anak adalah peniru yang hebat. Melihat orang tua selalu "engga enakan" dan mengorbankan keluarga, anak berisiko tumbuh menjadi pribadi yang sulit bilang tidak. Mereka akan kesulitan menetapkan batasan (boundaries) kerena menganggap pengorbanan diri yang berlebihan adalah standar moral yang benar.
Pesan Untuk Kita, Para Orangtua
Beb, balas budi itu baik, tap jangan sampai kita membayar utang kita kepada orang lain menggunakan "kebahagiaan" anak-anak kita. Anak anak tidak butuh orangtua yang sempurna atau dipuji hebat oleh semua orang. Mereka hanya butuh orangtua yang "ada" dan merasa mereka adalah prioritas utama. Menjadi orang tua yang berani menetapkan batasan bukan berarti kita sombong, tapi kita sedang melndungi hati kecil yang paling mencintai kita. Beb, apakah kamu pernah terjebak diposisi ini? antara ingin balas budi tapi hati kecil merasa bersalah pada keluarga? Yuk, berbagi cerita dikolom komentar ya. Oh ya kalian juga bisa banget kirim cerita kalian biar bisa diterbitkan di blog ini via email ke iisrahmawatiii@gmail.com. Terimakasih.

Komentar
Posting Komentar