Postingan

Menampilkan postingan dengan label Karir

Kisah Sari: Ketika 'Cukup' Terasa Kurang dan Harapan Itu Nyaris Hilang

Gambar
  Di dunia yang seru serba cepat ini, mudah sekali merasa tertinggal. Kita sering melihat kesuksesan orang lain di media sosial dan diam-diam membandingkannya dengan hidup kita yang rasanya 'jalan di tempat'. Jika kamu pernah merasakannya, kisah Sari ini mungkin akan sangat relate denganmu. Mimpi Besar dan Realita yang Menghimpit Kenalkan, Sari. Perempuan berusia 28 tahun yang, seperti kebanyakan dari kita, punya mimpi-mimpi besar. Dulu, Sari membayangkan di usia ini ia sudah punya karier yang mapan, rumah sendiri, dan mungkin mulai membangun keluarga. Tapi realita berkata lain. Sari bekerja keras di sebuah perusahaan swasta. Gajinya? Cukup untuk bayar kos, makan, dan kirim sedikit uang untuk orang tua di kampung. 'Cukup' dalam artian pas-pasan. Tidak ada sisa untuk ditabung demi mimpi-mimpinya, apalagi untuk sekadar healing . Setiap awal bulan, Sari sudah pusing memikirkan alokasi gaji. "Kapan aku bisa punya rumah kalau tabungan aja gak punya?" tanyanya pad...

Imposter Syndrome: "Kok Bisa Ya Aku di Sini?" – Saat Kursi Tinggi Terasa Terlalu Besar

Gambar
Pernah nggak sih, kamu duduk di ruang rapat, baru saja dipromosikan, atau dipercaya memegang proyek besar, tapi bukannya bangga, kamu malah merasa seperti "penipu" ? Dalam hati kamu berbisik, "Aduh, ini pasti cuma keberuntungan," atau "Nanti kalau mereka tahu aku aslinya nggak sepintar itu gimana ya?" Kalau kamu pernah merasakannya, selamat datang di klub! Fenomena ini namanya Imposter Syndrome . Dan kabar "baiknya", kamu nggak sendirian. Banyak perempuan hebat di luar sana yang merasa kursi jabatan mereka terlalu besar, padahal sebenarnya mereka yang sudah tumbuh melampaui kursi itu. 1. Teorinya: Mengapa Perempuan Lebih Rentan? Secara psikologis, Imposter Syndrome pertama kali diperkenalkan oleh Pauline Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1970-an. Menariknya, penelitian awal mereka fokus pada perempuan berprestasi tinggi. Kenapa kita? Ada teori Sosialisasi Gender . Sejak kecil, banyak perempuan dididik untuk bersikap rendah hati, tidak menonjo...

Dari "Siapa Aku?" Menjadi "Ini Aku yang Baru": Menemukan Kembali Jati Diri Setelah Menikah

Gambar
  Pernah nggak sih, kamu berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirimu sendiri, lalu bergumam pelan, "Ke mana ya perginya perempuan hebat yang dulu selalu semangat mengejar deadline?" Dulu, hidupku adalah tentang presentasi, meeting , dan apresiasi dari atasan. Aku merasa punya kendali penuh atas hidupku. Tapi setelah menikah, apalagi ketika keputusan untuk "rehat sejenak" demi keluarga diambil, perlahan-lahan dunia itu memudar. Tiba-tiba, labelku bukan lagi namaku sendiri, tapi "Istri si A" atau sekadar "Ibu rumah tangga". Jujur saja, rasanya seperti kehilangan kompas. Aku merasa jati diriku ikut hanyut bersama tumpukan cucian dan daftar belanja pasar. Fase "Kehilangan" yang Nyata Banyak yang bilang, "Kan enak di rumah, nggak perlu macet-macetan." Tapi bagi perempuan yang terbiasa aktif, diam di rumah tanpa tujuan karier yang jelas itu melelahkan secara mental. Ada rasa iri yang terselip saat melihat teman kantor dulu naik...