Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ruang diri

Membandingkan Diri di Sosial Media: Mengapa kita selalu merasa kurang?

Gambar
  Pernah ngga sih, lagi asyik scrolling feed atau story sosial media sambil nyantai, tiba-tiba perasaanmu berubah jadi rada sedih atau melow? Awalnya cuma mau cari hiburan, eh malah ketemu postingan teman baru beli rumah, si A yang karirnya naik pesat, si B yang kelihatanya punya kehidupan harmonis, tanpa beban denagan keluarganya. Tanpa sadar, ada suara kecil dikepala yang berisik "kok, hidup aku gini-gini aja ya? kok aku ngrasa ketinggalan jauh banget?" Jujur, kalau kamu pernah merasa begitu, kamu engga sendirian. Akupun sering banget terjebak diposisi itu, rasanya seperti ada beban berat yang tiba-tiba ngetok dada, bikin kita merasa "selalu" kurang. Tapi setelah mencoba paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, seperti menemukan pintu keluar dari labirin emosi yang menguras tenaga ini. Yuk kita bahas kenapa pikiran itu bisa muncul dan bagaimana caranya supaya hati kita kembali tenang. Mengapa sosial media bikin kita merasa "selalu" kurang? Dari sudut pa...

Saat Orang Lain Melihat Cahaya Yang Sempat Kuanggap Padam

Gambar
  Pernah ngga sih ngrasa "tertinggal" dari orang lain yang buat dirimu merasa insecure entah itu dari pencapaian, kehidupanya, kesejahteraan, karir, asmara dan punya privillege bagus yang mendukung perkembangan seseorang? Nah, saya lagi ada di fase itu!. Menurutku, bukan iri melihat orang lain sukses, yang ada pengen tau aja step by stepnya bagaimana agar bisa beralih dari mode bertahan/ survive ke mode sejahtera/menikmati? Mulainya dari mana?. Pertanyaaan terus melayang dikepalaku seolah memaksa otak ini berpikir solusi, cara, formula agar bisa merubah keadaan hidup ini ditenganh keadaan ekonomi makro seolah mencekik rakyat. Bisakah saya merubah keadaan hidup menjadi lebih baik tanpa privillege?    Sebelumnya perkenalkan saya intan. Seorang Istri Rumahtangga. Keseharianku mengerjakan pekerjaan rumahtangga, merawat suami,  lega dan bahagia aja kalau sudah senam jari diblog tentang kisahku dibalik ruangan sempit tempat tinggalku saat ini. Ruangan sempit itu masih satu...

Menata Hati di Ruangan Sempit, Melangitkan doa yang Luas

Gambar
            Adzan Magrib sudah berkumandang, Saya bergegas mengajak suami sholat. "mas, yuk sholat" ajaku terdengar suara jawaban darinya "duluan aja, aku masih ngerjain ini" tanpa basa basi lagi, aku sholat sendiri. Karena terlalu sering ditolak saat ajak suami sholat jamaah, lama-lama sudah terbiasa dan saya tidak bereaksi lagi. Tidak marah, tidak ngomel dan tidak menceramahinya. Yang saya lakukan adalah mengajak untuk menggugurkan kewajiban, setelahnya itu urusanya, Mau sholat jamaah ya alhamdulillah kalau ngga sholat itu pilihanya dan diluar kontrol istri. Sejak mempunyai konsep seperti itu, saya merasa tenang. Kalau ia mengerti apa yang harus dikerjakan seorang hamba kepada-Tuhanya baiknya dikerjaian walaupun ngga ada yang ngajakin. Tapi yasudahlah pastikan kita para istri tetap mendoakan suami agar menjaga sholatnya walaupun kelakuan setiap harinya ya begitulah kalau diajak sholat...tapi Yaqinlah Allah maha Mendengar semua doa kita.    ...

Berani bilang "tidak" tanpa rasa bersalah

Gambar
  Beb, sebagai perempuan yang terbiasa mengabdi—baik itu di sekolah, di rumah tangga, atau di lingkungan sosial—sering kali kita merasa "nggak enakan". Ada rasa takut kalau bilang "tidak" bakal dicap sombong, nggak kooperatif, atau malah bikin orang lain kecewa. Padahal, terus-menerus bilang "iya" padahal hati dan fisik sudah lelah itu ibarat kita membiarkan baterai HP kita bocor. Lama-lama kita sendiri yang drop . Khusus buat kamu pembaca setia Sisi Feminin , yuk kita belajar seni "Berani Bilang Tidak" dengan cara yang tetap elegan dan hangat: Kenapa Kita Sulit Bilang Tidak? Banyak dari kita merasa harga diri kita ditentukan dari seberapa banyak kita bisa membantu orang lain. Kita takut penolakan kita akan merusak hubungan. Padahal, hubungan yang sehat adalah hubungan yang menghargai batasan ( boundaries ) masing-masing. Cara Menolak Tanpa Perlu Drama: 1. Jangan Langsung Menjawab Kalau ada teman atau rekan kerja minta bantuan yang sekiranya me...

5 Langkah Sederhana Memulai Self-Love untuk Perempuan yang Sibuk Bekerja

Gambar
Seringkali, kita terlalu sibuk jadi "pahlawan" buat orang lain sampai lupa memeluk diri sendiri. Padahal, self-love itu bukan egois, tapi bahan bakar supaya kita nggak burnout . Khusus buat kamu dan pembaca setia Sisi Feminin , ini 5 langkah sederhana buat memulai self-love di tengah padatnya jadwal kerja: 1. Berhenti Membandingkan "Halaman Belakang" Kita dengan "Halaman Depan" Orang Lain Di era media sosial, gampang banget merasa kurang saat lihat keberhasilan orang lain. Ingat, Beb, apa yang kamu lihat di layar cuma "potongan terbaik" mereka. Langkah nyata: Fokuslah pada progres kecilmu hari ini. Sudah bisa posting satu artikel blog atau mengajar dengan sabar itu sudah pencapaian luar biasa! 2. Berani Bilang "Tidak" Tanpa Rasa Bersalah Perempuan sering merasa harus jadi people pleaser (ingin menyenangkan semua orang). Tapi, setiap kali kamu bilang "iya" pada hal yang sebenarnya nggak sanggup kamu lakukan, kamu sedang bil...