Absen Wajah di Tengah Riuh Pamer THR: Kisah Sinta dan Benteng Diamnya

 


Hari Raya seharusnya menjadi momen hangat untuk mempererat tali silaturahmi. Namun, bagi Sinta, berkumpul dengan keluarga besar suaminya sering kali terasa seperti memasuki medan perang dingin yang melelahkan secara emosional. Ada sebuah kesepakatan tak tertulis di benak Sinta: datang, setor muka, diam, lalu pulang.

Siang itu, di ruang tamu rumah ibu mertua, suasana tampak cair dan akrab. Setidaknya dari luar. Ibu mertua duduk di kursi utama, dikelilingi oleh anak-anak dan menantu perempuannya. Ada kakak ipar perempuan Sinta, adik ipar perempuannya, dan seorang mbak ipar. Mereka sedang asyik ngobrol santai, yang perlahan tapi pasti, berbelok menjadi ajang unjuk gigi yang terselubung.

Topik pembicaraannya klasik namun sensitif di momen Lebaran: uang Tunjangan Hari Raya (THR) untuk orang tua.

"Bu, ini dari aku ada sedikit buat nambah-nambah beli kue atau baju baru," ujar si kakak ipar sambil menyerahkan amplop tebal dengan senyum mengembang, memastikan semua mata tertuju padanya.

Tidak mau kalah, adik ipar pun menimpali, "Eh, aku juga ada dong buat Ibu. Lumayanlah Bu, bisa buat pegangan Ibu kalau mau jalan-jalan." Suaranya meninggi satu oktav, seolah ingin menegaskan nominal yang ada di dalam amplopnya tidak main-main.

Mbak ipar pun ikut meramaikan suasana dengan narasi serupa. Percakapan itu berubah menjadi orkestra pamer terselubung. Mereka saling melempar cerita tentang betapa besarnya perhatian—yang diukur dengan materi—yang mereka berikan kepada sang ibu. Sorot mata mereka seakan meminta pengakuan dan pujian, baik dari sang ibu maupun dari satu sama lain.

Di sudut sofa, Sinta duduk mematung. Wajahnya datar, pandangannya lurus ke depan, sesekali pura-pura sibuk dengan ponselnya. Dia mendengar setiap kata, setiap nada sombong, dan setiap tawa renyah yang dipaksakan.

Dalam hati, Sinta tersenyum kecut. Dia tahu betul kenyataannya. Dia tahu persis berapa nominal yang diberikan suaminya kepada ibunya. Di antara semua anak yang sedang sibuk memamerkan "bakti" mereka, uang THR dari suaminya—uang yang juga merupakan hasil jerih payah dan kesepakatan mereka berdua sebagai suami istri—adalah yang paling besar. Jauh melampaui tumpukan amplop yang sedang dipamerkan di atas meja.

Namun, Sinta memilih untuk diam seribu bahasa. Dia tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk nimbrung, apalagi meluruskan fakta dan ikut dalam perlombaan pamer tersebut.

"Untuk apa?" pikirnya.

Baginya, terlibat dalam obrolan itu hanya akan membuang energi. Dia sudah terlalu lelah dengan dinamika keluarga suaminya yang penuh kepura-puraan dan kompetisi yang tidak sehat. Dia tahu, jika dia membuka mulut, suasana mungkin akan berubah menjadi canggung, atau bahkan defensif.

Sinta menyadari bahwa diamnya mungkin menyebalkan bagi mereka. Dia sadar betul bahwa di mata ibu mertua dan para iparnya, dia mungkin berkesan sombong, angkuh, atau tidak peduli. "Biarlah mereka mengira aku sombong. Aku sudah tidak peduli lagi," gumamnya dalam hati.

Keputusan Sinta untuk diam bukanlah tanpa alasan. Ini adalah hasil dari kekecewaan dan luka lama yang terakumulasi. Dia memilih untuk menjaga jarak yang aman demi kesehatan mentalnya sendiri. Dia mementingkan kedamaian jiwanya daripada harus berpura-pura akrab demi sebuah pengakuan semu.

Kehadirannya di rumah itu hari ini hanyalah sebuah kewajiban minimal. Dia hanya ingin "numpang absen wajah"—menunjukkan bahwa dia ada, memenuhi undangan, dan menghormati formalitas. Tidak kurang, tidak lebih. Dia hadir secara fisik, tapi jiwanya telah membangun benteng yang kokoh dari hiruk pikuk pamer harta tersebut.

Dari awal acara hingga akhir, Sinta tetap pada posisinya. Diam. Dia tidak ikut tertawa saat mereka melempar candaan, tidak ikut bertanya tentang rencana mudik mereka, dan yang paling penting, tidak ikut dalam kompetisi siapa yang paling berbakti.

Inilah kisah Sinta. Sebuah kisah tentang seorang istri yang memilih benteng diam sebagai bentuk pertahanan diri di tengah lingkungan yang baginya beracun. Dia tidak lagi mencari validasi dari keluarga suaminya. Baginya, mengetahui kebenaran di dalam hatinya sudah cukup, dan kedamaian pikirannya adalah yang utama, meskipun harga yang harus dibayar adalah dicap sombong.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Dinding yang Berdampingan: Kisah Diana, Hutang Mewah, dan Hati yang Membatu

Penyesalan Laras: Saat Gengsi Memisahkan Jarak dan Kesetiaan Pun Runtuh

5 Langkah Sederhana Memulai Self-Love untuk Perempuan yang Sibuk Bekerja