Judul: Saat Masa Lalu Menyapa di Inbox TikTok: Kenangan yang Kita Jaga, Ternyata Dilupakannya

 

Pernah nggak sih, Beb, tiba-tiba ada notifikasi masuk dari nama yang sudah bertahun-tahun tenggelam di tumpukan memori? Itulah yang dialami sahabatku, Fina, beberapa hari lalu.

Sore itu, Fina mendadak mengirim pesan suara dengan nada panik sekaligus bahagia. "Beb, kamu nggak akan percaya siapa yang nge-chat aku di TikTok... Dimas!"

Nostalgia di Balik Layar Ponsel

Dimas. Nama itu pernah punya bab khusus di hati Fina waktu zaman kuliah dulu. Mereka pernah sedekat nadi, meski akhirnya waktu dan takdir memaksa mereka menjadi sejauh matahari. Lewat inbox TikTok, Dimas menyapa dengan antusias.

Malam itu, Fina dan Dimas terjebak dalam lorong waktu. Mereka saling berkirim pesan, bernostalgia tentang kantin kampus, tugas-tugas yang menumpuk, sampai candaan internal yang dulu cuma mereka yang paham.

Dimas tampak sangat bersemangat. Ia bertanya tentang kabar Fina, pekerjaannya, sampai kehidupan Fina sekarang. Fina pun begitu. Mereka saling bertukar cerita tentang realita saat ini: Dimas yang sudah jadi ayah dari dua anak, dan Fina yang juga sudah bersuami.

"Kamu Ingat Nggak Waktu Kita...?"

Obrolan makin hangat. Fina mulai masuk ke momen yang paling ia ingat—momen awal mereka bertemu di kampus. Sebuah kenangan yang menurut Fina sangat ikonik dan membekas. Fina menuliskannya dengan detail, berharap Dimas akan menyahut dengan kalimat, "Iya, aku ingat banget!"

Tapi, jawaban Dimas justru seperti siraman air es di tengah siang bolong.

"Hah? Emang kita kenalnya gitu ya? Maaf ya Fin, aku beneran lupa awal mula kita ketemu gimana."

Deg. Fina terdiam di depan layar ponselnya. Ada rasa aneh yang menjalar. Bukan marah, tapi lebih ke arah... kecewa yang sunyi.

Pelajaran Tentang Memori yang Berbeda

Beb, kisah Fina ini bikin aku merenung. Seringkali, kita menyimpan sebuah kenangan seperti barang antik yang kita lap setiap hari agar tetap berkilau. Kita ingat detail baunya, suasananya, sampai kata-kata yang diucapkan.

Tapi kita lupa, bahwa orang yang ada di dalam kenangan itu mungkin sudah meletakkan memori tersebut di gudang paling belakang, atau bahkan sudah membuangnya demi memberi ruang bagi kenangan-kenangan baru di hidupnya yang sekarang.

Dimas antusias bertanya kabar, tapi ia lupa awal sejarah mereka. Bagi Dimas, Fina mungkin hanya "teman masa lalu" yang menyenangkan untuk diajak ngobrol saat bosan melanda. Tapi bagi Fina, momen itu adalah fondasi.

Relate dengan Kita?

Kita semua mungkin punya satu "Dimas" dalam hidup kita. Seseorang yang kita ingat dengan sangat baik, tapi ternyata bagi dia, kita hanyalah bagian dari kerumunan masa lalu yang mulai kabur.

Cerita Fina mengajarkan satu hal: Jangan pernah menggantungkan kebahagiaan kita pada ingatan orang lain. Kenangan itu milik kita, dan nggak apa-apa kalau cuma kita yang menyimpannya dengan rapi. Saat dia lupa, itu bukan berarti momen itu nggak berharga, itu hanya tanda bahwa kalian sudah hidup di dunia yang benar-benar berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Dinding yang Berdampingan: Kisah Diana, Hutang Mewah, dan Hati yang Membatu

Penyesalan Laras: Saat Gengsi Memisahkan Jarak dan Kesetiaan Pun Runtuh

5 Langkah Sederhana Memulai Self-Love untuk Perempuan yang Sibuk Bekerja