Menjemput Divine Feminine Energy : Cara Berhenti Burnout dan Mulai Menikmati Hidup
Pernah ngga sih, kamu bangun dipagi hari tapi rasanya energi sudah habis duluan sebelum melangkah keluar kasur? Rasanya isi kepala penuh banget dengan daftar pekerjaan yang belum selesai, target yang harus dicapai, atau ekspektasi-ekspektasi orang lain yang seolah harus kita penuhi semuanya sendiri. kalau kamu sedang berada di fase ini, peluk erat untuk dirimu, ya. kamu ngga sendirian, dan wajar banget kalau kamu merasa lelah. Kaya hari ini, sebelumnya udah ngetik banyak diblog dan sudah publish, eh ternyata ga muncul di branda, kenapa ya? yawdahlah akhirnya ketik ulang lagi deh... meskipun tau kan rasanya gimana??
ngomongin tentang berjuang, mandiri, dan finansial stabil kalau suami-istri berkomitmen untuk melakukanya bersama. Artinya, keduanya sama-sama kerja dan masing masing punya penghasilan sendiri. Idealnya sudah saling mengerti dan memahami tentang situasinya bisa tetap menjaga rumahtangganya dengan baik karena ditopang oleh finansial yang kuat. Nyatanya, ga menepis kemungkinan keduanya bisa mengalami "perceraian". Kenapa? karena penyebabnya ga selalu tentang ekonomi.
Realita yang sering terjadi adalah ketika suaminya belum mencukupi kebutuhan keluarga dengan layak, pasti yang ada dipikiran istri adalah ingin "membantu" perekonomian keluarga. Akhirnya istri mulai bekerja atau produktifitas dari rumah. Suami mulai terlena dengan aktifitasnya karena berpikir istrinya membantu meringankan. Hingga istri suatu hari mulai menyadari "Niat awalnya membantu, tapi malah bergeser ke kewajiban" padahal, perekonomian keluarga sudah lebih baik, kenapa suami tidak menyuruhnya berhenti dari aktifitasnya dan fokus dirumah?, mulai ada istilah ini uang aku, ini uang kamu, dan yang lebih terasa, suami beranggapan istrinya perempuan kuat yang bisa menghadapi apapun yang terjadi sendiri, lupa bahwa semandiri apapun perempuan tetap ia ingin merasa dirinya dicintai, disayang, dan dinafkahi oleh suaminya dengan layak. Tapi yang ada malah justru sebaliknya....istrinya tetap bekerja dan suaminya tidak memberikan nafkah dengan alasan istrinya sudah berpenghasilan. Bahkan, ada yang lebih ekstrim lagi yaitu ketika penghasilan istrinya lebih besar darinya, ada diantara para suami yang beranggapan itu bukanlah suatu hal yang harusnya jadi alasan bersyukur dan apresiasi atas pencapainya justru dianggap sebagai "saingan".
Kalian tau guys? kalau kita tilik dari kaca mata istri atau POV istri, sederhananya tuh bilang gini "mending aku sudah ada niatan membantu mencari nafkah padahal bukan kewajiban utamaku, setelah aku bisa mandiri dan penghasilanya lebih, kenapa malah aku yang dimusuhi? maumu apa sih?. dan kalau sudah dianggap 'saingan' oleh suami, pasti komunikasi yang ada hanyalah formalitas belaka. alasanya apa? karena laki-laki egonya perlu dikasih makan dengan menjadikanya merasa dibutuhkan, bisa diandalkan oleh keluarganya. iya ga sih?
Istri mandiri adalah luarbiasa karena niat awalnya sangat mulia, namun alangkah baiknya tanpa mengurangi sisi feminin dalam dirinya. Ga papa kerja, tapi ngga sungkan minta tolong suaminya gotong galon dan kegiatan lainya. Dan sisi feminin disini bukan cuma dalam ranah fisik aja. Bahkan Psikis adalah pondasi awalnya. Maksudnya, mengembalikan keseimbangan hidup, salah satu cara yang bisa dicoba adalah dengan mulai menyapa kembali sisi lembut dalam diri kita: Divine Feminine Energy
Biar gampang dibayangkan, Divene Feminin Energy bukanlah tentang penampilan luar yang harus selalu feminin. Bukan juga berarti kita harus berhenti menjadi perempuan mandiri yang punya karier hebat. Energi feminin yang dimaksud adalah tentang kualitas diri yang berkaitan dengan intuisi, penerimaan, kreativitas, empati, dan kemampuan untuk merasakan serta menikmati hidup apa adanya.
- Energi Maskulin fokusnya pada : Doing (melakukan), merencanakan, berlogika, melindungi dan mencapai target.
- Energi Feminin fokusnya pada : Being (merasakan), mengalir, menerima, merawat diri, dan berkreasi dari dalam hati.
Dua-duanya penting banget dan saling melengkapi. Tapi kalau hidup kita isinya cuma mengejar terget tanpa jeda, energi kita akan pincang. Menjemput energi feminin berarti memberikan ruang bagi diri kita untuk berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam, dan kembali terkoneksi dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Komentar
Posting Komentar