Serba Salah Jadi Menantu Perempuan terkecil : Niat Bawa Buahtangan Biar Lengkap, Malah Kena Sindir Ipar Pas Lebaran


Momen Lebaran_baik Idul Fitri maupun Idul Adha_seharusnya menjadi waktu dimana kehangatan keluarga besar berkumpul bersama. Namun bagi sebagian perempuan khususnya yang menyandang predikat menantu perempuan paling kecil, moment ini memicu rasa cemas yang tak kasat mata. Ada silent bettle yang harus dihadapi, dimana setiap gerak-gerik, pakaian, hingga apa yang dibawa seolah ditaruh dibawah mikroskof untuk dinilai. Pernah ngga beb kamu berada diposisi dimana kamu sudah berpikir keras dan berniat baik untuk melengkapi acara, tapi yang kamu dapatkan justru sindiran tajam yang dikemas dalam nada bercanda?

Mari kita bayangkan sebuah situasi yang mungkin terasa sangat akrab ditelinga kita. Sebagai menantu perempuan paling kecil, kamu tahu betul bahwa kakak-kakak ipar dan saudara dari pihak suami sudah sibuk menyiapkan makanan berat dirumah utama. Mulai dari rendang, opor, gulai, hingga nasi dan ketupat sudah pasti berlimpah.

Berpikir secara logis dan penuh pertimbangan, kamu memutuskan untuk membawa parsel buah-buahan yang segar sebagai buah tangan. Pikirmu sederhana namun cerdas: setelah semua orang menyantap makanan yang penuh santan, lemak, dan kolesterol, kehadiran buah-buahan segar seperti semangka, jeruk dan salak akan menjadi pencuci mulut yang sangat dinantikan dan menyehatkan bagi keluarga.

Namun apa yang terjadi? saat kamu sampai dan membuka bungkusan buah tersebut dimeja makan alih-alih ucapan terimakasih, seorang kaka ipar perempuan memandang parselmu dengan tatapan sinis, lalu berkata dengan nada pasif-agresif didepan anggota keluarga yang lain:

        "enak ya cuma bawa buah....mudah, simple, murah lagi. Tahun depan aku mau bawa buah aja ah!"

Deg. Rasanya seperti ada petir di siang bolong. Muka rasanya langsung memerah, jantung berdegup kencang, dan makanan yang ada dimeja mendadak terasa hambar. Niat yang tulus untuk melengkapi hidangan justru dicap sebagai tindakan "cari gampang" dan "pelit" hanya karena nominalnya dianggap tidak seberapa dibanding daging-dagingan dimeja.

Dalam dinamika keluarga besar, menantu terkecil atau paling baru sering kali dianggap berada diposisi paling bawah dalam "hirarki" domestik. Ada senioritas yang tidak tertulis. Sindiran dari kaka ipar seperti itu sebenarnya mencerminkan rasa ingin mendominasi atau perasaan bahwa kontribusi mereka (yang lelah memasak) jauh lebih besar sehingga mereka merasa berhak untuk meremehkan apa yang dibawa oleh menantunya yang lebih muda.

Tentu saja, refleks pertama kita sebagai perempuan yang inggin menjaga kedamaian (People pleaser) adalah menunduk,tersenyum kecut, atau menahan tangis dikamar mandi. Tetapi, Beb, membiarkan diri kita diinjak-injak atas nama "sopan santun kepada yang lebih tua" justru akan membuat mereka kebiasaan untuk terus menyindir kita dimasa depan. lantas bagaimana cara membalasnya kalau kita lagi ada di situasi tersebut?

Kita tidak perlu membalas dengan amukan, teriakan, atau kata-kata kasar yang bisa merusak suasana Lebaran dan membuat posisi kita disalahkan. Kita bisa melawan dengan kalimat yang super sopan, diucapkan sambil tersenyum manis, namun memiliki logika yang sangat menohok (savage) hingga membuat si penyindir langsung mati kutu.

Berikut adalah beberapa pilihan respond cerdas yang bisa kamu gunakan saat mendapat sindiran semacam itu:

  1. Skakmat dengan Logika Kesehatan
  • Kalimatmu: (sambil tersenyum lebar dan menata buah ke piring) "wah, iya donk kak, Alhamdulillah sengaja aku pilih buah yang segar-segar, soalnya kan menu dari kaka semua sudah udah mewah banget, penuh santan dan daging. Jadi, biar seimbang jadi aku bawain "penyelamat"kolesterolnya biar setelah makan enak, kita semua tetap sehat dan nggak pusing. malah bagus banget kalau tahun depan kaka mau ikut bawa buah juga, biar stok vitamin buat keluarga besar makin banyak.
  • Efeknya : Kalimat ini memuji masakan mereka secara tidak langsung, namun sekaligus menegaskan bahwa buah yang kamu bawa memiliki fungsi penting yang tidak bisa digantikan oleh masakan mereka. Kata-kata terakhirmu juga membalikkan sindiranya menjadi sebuah ajakan positif yang membuatnya tidak bisa berkutit.
    2. Buat Mereka Sulit dan Merasa bersalah (cuman ini cenderung brani banget dan frontal) tapi aku kalau ada di posisi seperti diatas akan memilih respon kedua. Ceritanya, setelah makan bersama keluarga di momen hari raya, kemudian langsung menikmati moment kebersamaan di pantai. ketika semuanya sedang kumpul dan larut dalam obrolan, aku memisahkan diri dan menyendiri ditempat yang berpotensi tidak terlihat oleh mereka sambil menumpahkan emosi yang ada didada. dan aku sengaja dibuat lama. Setelah mereka menyadari 'aku' tidak bersama mereka, semuanya berpencar untuk mencariku. Padahal, aku tahu itu, sambil dalam hati bilang (kalian muter muter dulu aja ya...banyak tempat yang belum kalian kunjungi kan di pantai ini?...telusuri semua pojok yang ada...sambil aku tertawa melihat tingkah kalian disini....kalau kalian sudah capek, baru aku keluar dari tempat persembunyianku..wkwkkw enak aja udah bikin hatiku sakit dengan lidahnya, ya minimal capek fisik lah muter muter view pantai wkwkwkk)

 Beb, menjadi menantu yang baik bukan berarti kita harus menjadi manusia tanpa suara. Menghormati yang lebih tua itu wajib, tetapi menjaga kewarasan mental dan harga diri kita sendiri juga merupakan sebuah keharusan. Niat baikmu membawa buah adalah tindakan yang cerdas dan penuh perhatian. Jika ada orang lain yang memilih untuk melihatnya dari sudut pandang negatif, itu adalah masalah kedengkian didalam hati mereka sendiri, bukan salahmu. Tetaplah melangkah dengan kepala tegak dan tersenyum merekah dirumah barumu.

Beb, kamu punya pengalaman serupa ngga pas kumpul keluarga besar? entah itu disindir soal makanan, pengasuhan anak, atau hal lainya? Yuk, ceritakan pengalamanmu dikolom komentar dibawah! mari kita saling menguatkan sesama perempuan diruang aman sisi feminin ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Dinding yang Berdampingan: Kisah Diana, Hutang Mewah, dan Hati yang Membatu

Penyesalan Laras: Saat Gengsi Memisahkan Jarak dan Kesetiaan Pun Runtuh

5 Langkah Sederhana Memulai Self-Love untuk Perempuan yang Sibuk Bekerja