Pengorbanan Sunyi Yang Dianggap Merusak Citra Keluarga
Malam yang sunyi tapi penuh makna dengan refleksi diri. Duduk sambil menikmati pemandangan yang ada di depan mata. Dalam hati berucap "saya bangga jadi istri yang mempunyai suami sepertimu, mas. orang yang tulus membantu keluarga, saya tau kamu capek, tapi tetap milih berkontribusi sebelum acara. ga banyak orang sepertimu mas, yang mau melakukan apapun yang kamu bisa buat acara, terkadang malah ada yang datangnya karena mau pegang mic sambutan atas nama apa gitu...tanpa mau ngurusin alat-alat sudah ada belum buat besok acara? uang iuaranya cukup ngga buat sewa alatnya? tapi....namanya juga karakter orang, pasti berbeda dan kehadiran juga termasuk kontribusi sebenarnya.iya ga sih?"
Kalau diingat satu hari sebelum malam ini, ada pesan WA masuk yang isinya undangan online dari kaka ipar untuk hadir di acara wisuda TK. Kamudian saya kasih tau suami terlebih dahulu, kita ngobrolin gimana langkah selanjutnya. Suami bilang "coba nanti saya tanyakan dulu alat-alatnya yang belum ada apa saja, barangkali bisa diusahakan" Kemudian suami segera menelpon kakanya. Setelah itu, ia menulis list alat-alat apa saja yang belum ada di sebuah catatan. Ia menelpon dua temanya secara bergantian. Terdengar suaranya dari sebrang telpon bilang "ambil saja sini alatnya, udahlah ga usah duitan".Temanya bos kipas blower dan alat untuk acara Wedding Organizer "Alhamdulillah, makasih banget ya...siap segera diambil dua kipas blower dan 1 soundsystem plus microfon" suaranya antusias dan bahagia. Tanpa tunda waktu lagi, ia mencari mamanya (ibu mertuaku) dan kakanya (kaka iparku) dan menceritakan padanya.
"ini uangnya buat bensin ambil alatnya (dengan memberikan uang 200 ribu)"suamiku dan aku yan ada disitu hanya diam. Dalam hatiku bilang "apa cukup bensinya dengan uang segitu? kan ambil alatnya didua tempat dan lokasinya lumayan jauh? dan iya sih owner ga nerima duitan karena sama teman deketnya, tapi ngga mungkin kan ngembaliin alat dengan tangan kosong ya minimal rokok dan cemilan lah?". Mau bilang kurang kaya kurang etis, ngga bilang loh ko "keterlaluan gitu ngasihnya". Coba deh kalau dihitung bayar sewa kipas blower 2 dan soundsystem 1 plus microfon udah nyampe diangka 1 juta kayanya (sampai sini pahamkan maksudnya?) dan ia juga memintaku buat isi acara pembacaan ayat suci al-qur'an. Maybe, positifku karena mneghargai saya dan suami yang sudah berkontribusi di acara. Tapi, Langsung saya tolak dengan alasan 'suaraku jelek' padahal saya ngrasa gimana ya....kenapa mendadak banget gitu bilangnya? dan kalau emang dari awal sudah ditentukan saya yang ngisi, kenapa pemberitahuanya ga bersamaan dengan undangan online? ya itu POV saya aja sih...tapi jadi keinget dulu pernah ada yabg bilang gini "Kalau kamu diajak saat waktunya mepet, maka jangan mau. karena kamu hanyalah pemain pengganti"
Saya tetap dampingi suami ambil alat. dijalan ia bilang "udah ya jangan pikirin uangnya cukup atau ngga, pake aja uang kita. gapapa kan?" saya jawab "iya gapapa". Sepanjang perjalanan kami ngobrolin apa yang barusan terjadi. katanya, "Memang ya ga semua orang bisa menghargai orang lain, kerja kerasnya, kebaikanya, setelah ambil alat, ngumpul bentar ya sama teman terus abis subuh baru ngrakit alat-alatnya. Terus kita istirahat dirumah aja ga usah ikut acara." saya jawab "iya, saya manut. lagian kita belum tidur juga dan kita juga udah nyiapin acaranya. "yakin alasanya itu??? bukanya masih belum nyaman sama salah satu orang yang ada dikeluarga besarku?" jawabnya dengan nada menggodaku "ihh apaan sih...ngga biasa aja...ya sebagai seorang istri ya manut suami" balasku.
Besok sore, saya dan suami ke lokasi acara. Sudah ditata alat-alatnya. Suami langsung "mindahin alat-alatnya ke mobil. Saya sempetin dulu bertemu mamah mertua dan melihat keadaanya. "Baru datang tah? iya ya pas acaranya ngga datang. Tamu-tamunya pada bilang "kaya ngga kompak keluarganya" ngga boleh kaya gitu lagi ya kalau ada acara" langsung saya jawab "saya manut suami mah. saya percaya apapun yang dia putuskan sudah ia pikirkan yang terbaik"
Guys, Alhamdulillah saya bersyukur punya suami yang sangat peka dan berani ambil keputusan sendiri tanpa ada bayang-bayang keluarganya. Memprioritaskan kenyamanan dan kebahagiaan istrinya dan ngga takut dimusuhi sama keluarganya hanya karena prioritaskan istri. Dan dari kejadian ini saya belajar bahwa sebagaimanapun kamu berusaha, kalua kamu ngga dianggap bagianya ya tetap saja ga ada artinya. Hiduplah dilingkungan yang mengerti cara menghargai oranglain. Karena ingat, keluarga besar belm tentu bisa menghargaimu. Selagi suami-istri kompak, gapapa banget kalau buat batasan komunikasi buat orang yang pernah buat diri ngga nyaman demi menjaga mental sehatmu. Terimakasih ya..kalian boleh banget kasih tanggapan cerita ini di kolom komentar ya....

Komentar
Posting Komentar