Menata Hati di Ruangan Sempit, Melangitkan doa yang Luas


 

        Adzan Magrib sudah berkumandang, Saya bergegas mengajak suami sholat. "mas, yuk sholat" ajaku terdengar suara jawaban darinya "duluan aja, aku masih ngerjain ini" tanpa basa basi lagi, aku sholat sendiri. Karena terlalu sering ditolak saat ajak suami sholat jamaah, lama-lama sudah terbiasa dan saya tidak bereaksi lagi. Tidak marah, tidak ngomel dan tidak menceramahinya. Yang saya lakukan adalah mengajak untuk menggugurkan kewajiban, setelahnya itu urusanya, Mau sholat jamaah ya alhamdulillah kalau ngga sholat itu pilihanya dan diluar kontrol istri. Sejak mempunyai konsep seperti itu, saya merasa tenang. Kalau ia mengerti apa yang harus dikerjakan seorang hamba kepada-Tuhanya baiknya dikerjaian walaupun ngga ada yang ngajakin. Tapi yasudahlah pastikan kita para istri tetap mendoakan suami agar menjaga sholatnya walaupun kelakuan setiap harinya ya begitulah kalau diajak sholat...tapi Yaqinlah Allah maha Mendengar semua doa kita.

       Namaku Rahma, Istri rumahtangga yang saat ini full dirumah fokus menjadi istri. Sudah 2 tahun pernikahan Allah belum menganugrahi keturunan. Dulu sempet jadi kariyawan honorer di salah satu instansi, kemudian suami memintaku berhenti bekerja. alasanya agar saya tidak kecapean dan fokus hamil. Awalnya, saya sempet menolak permintaanya, karena saya pikir kita masih tetap bekerja tanpa mengurangi ikhtiar dan doa untuk hamil. Tapi terkadang saya kepikiran juga...kalau saya kekeh dengan keinginan tetap bekerja dan produktif, suami terpaksa ngga ya ngizininnya? ridho ga ya? ya jadi, mau ngga mau saya Resign. Merasaan masa transisi aktivitas dari yang mulanya punya aktivitas yang rutin, sekarang banyak waktu luang, jujur ngrasa sumpek juga sih diruangan ini. Oh ya! saya saat ini tinggal disamping kantor tempat suamiku kerja. Luasnya dua petak ruangan. jadi tuh kondisi ruanganya memanjang gitu, ruangan ujung buat kamar tidur, lemari pakaian, kulkas, dan tempat sholat. Ruangan didepanya ada mesin cuci dan dapur mini dengan kompor satu tungku. Kalian pasti mau nanya kan toiletnya dimana kan? ya guys toiletnya ikut dikantor. ya itung itung kalau pagi suamiku kerja sebagai staff administrasi dan malamnya sebagai penjaga gedung instansi bukan penjaga sekolah tah??? heehhehe. Saya juga pernah ikutan bantuin administrasi dikantor yang sama itupun terhitung jarang banget.  Oh ya..jangan tanya banyak nyamuk ga kalau malam hari ya.. Pastinya banyak dong. Karena toiletnya join sama punya kantor, dihari aktif sering banger saya nahan buang air kecil karena lagi banyak orang dikantor. 

        Kalian pasti penasaran kan kenapa mau tinggal di tempat yang kecil dan ruang geraknya yang sempit? kenapa ngga nyicil KPR aja? kenapa ngga ngontrak aja? saya jawab ya ...terpaksa! belum punya power agar bisa ada opsi ketempat lain. Suamiku punya banyak sangkutan hutang sebelum nikah. Sebelum nikah, gajinya habis untuk bayarin hutang keluarganya. Ketika nikah sama saya, satu tahun kemaren full buat nyicil biaya nikahan. Dan ini tahun kedua masih ada sangkutan di online. Yah! begitulah hidup ya guys...jadi alasan utamanya kami mau tinggal disamping kantor ya karena bisa hemat pengeluaran sambil nyicil bayarin hutang online suami. Doain ya agar keadan ini segera berlalu, suami saya mau sholat dan diberkahi rizkinya.

        Ada istilah kalau "istri diuji kesabaranya ketika suami sedang ada dibawah dan suami akan diuji kesetiaanya ketika sudah sukses" realet banget sih. Dan kadang saya heran gitu, ketika ada perempuan yang menurutnya sudah legowo bagaimanapun keadaan suaminya, ketika sesekali ia berbagi cerita sama orang, seringkali ia dituntut untuk "menerima dan sabar" padahal sebenarnya, dia sedang menguatkan diri dengan menguapkan unek unek yang ada dalam benaknya. Yang terlihat oleh orang lain adalah buka aib keluarganya sendiri. Padahal, ia hanya ingin berbagi dengan apa yang dirasa, tanpa takut dihakimi, tanpa takut disalahkan. Lain halnya ketika suami istri sudah berumahtangga, terus ada yang nanyain istrinya "udah ngisi belum?" istinya menjawa seadanya "belum. Mohon doanya ya" pada penanya. tapi apa yang terjadi? Seringnya perempuan itu mendapat statement disalahkan secara langsung atau secara halus. misalnya bilang "kamunya kecapean kali ya makanya belum isi" atau "pikiran kamu lagi stress akhirnya hormonya lagi kurang stabil". Padahalkan, yang menjalankan rumahtangga berdua kenapa fokus menyalahkan istri?. Mungkin, bisa jadi istri sedang stress pikiranya karna sedang menghadapi kehidupan survivenya. kaya aku nih heheh

        Apapun yang terjadi dalam hidupmu guys, yuk sesama perempuan kita support. Kita doakan agar kehidupanya membaik. Ruang geraknya meluas, cita-citanya tergapai dan selalu menjadi perempuan yang dandan cantik, bebas belanja tanpa lihat harga, memberi tanpa diminta, glow-up untuk dirinya, keluarganya dan bermanfaat untuk orang sekitarnya.

         

         

 

 

       

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengorbanan Sunyi Yang Dianggap Merusak Citra Keluarga

Apakah Dia Benar-benar Cinta atau Hanya Ingin mengontrolmu? Kenali Tanda dan kebiasaan 'Belittling' Pada Pasangan

Menemukan Safe Place: Saat Hubungan Menjadi Tempat Paling Nyaman Untuk Bercerita