Membandingkan Diri di Sosial Media: Mengapa kita selalu merasa kurang?


 

Pernah ngga sih, lagi asyik scrolling feed atau story sosial media sambil nyantai, tiba-tiba perasaanmu berubah jadi rada sedih atau melow?

Awalnya cuma mau cari hiburan, eh malah ketemu postingan teman baru beli rumah, si A yang karirnya naik pesat, si B yang kelihatanya punya kehidupan harmonis, tanpa beban denagan keluarganya. Tanpa sadar, ada suara kecil dikepala yang berisik "kok, hidup aku gini-gini aja ya? kok aku ngrasa ketinggalan jauh banget?"

Jujur, kalau kamu pernah merasa begitu, kamu engga sendirian. Akupun sering banget terjebak diposisi itu, rasanya seperti ada beban berat yang tiba-tiba ngetok dada, bikin kita merasa "selalu" kurang. Tapi setelah mencoba paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, seperti menemukan pintu keluar dari labirin emosi yang menguras tenaga ini. Yuk kita bahas kenapa pikiran itu bisa muncul dan bagaimana caranya supaya hati kita kembali tenang.

Mengapa sosial media bikin kita merasa "selalu" kurang?

Dari sudut pandang psikologi, apa yang kita alami saat scrolling disebut Sosial Comparison Theory (Teori perbandingan sosial) Secara alami, manusia memang bisa mendorong untuk menilai dirinya sendiri dengan melihat orang lain. Masalahnya, Sosial media mengubah aturan mainya menjadi agak kurang adil.

  • Kita membandingan behind the Scenes dengan Hightlight orang lain Reel orang lain di sosial media, orang-orang biasanya hanya menampilkan bagian terbaik dari hidupnya_pencapaian,liburan seru atau moment bahagia. Kita ngga pernah tau berapa kali mereka gagal, seberapa lelahnya mereka, air mata apa yang tumpah sebelum foto Estetik diunggah. Katika kita membandingkan proses hidup kita yang penuh kekacauan (behind the scenes) denagn hasil orang lain yang dipoles rapih (highlight rell) wajar banget kalau kita merasa salah.
  • Efek FMO (Fear Of Missing Out) Melihat keberhasilan orang lain secara beruntun sering kita merasa terlepas dari ritme. kita merasa waktu kita berjalan terlalu lambat, sedangkan orang lain sudah berlari cepat. Padahal setiap bunga punya musim mekarnya masing-masing kan? 

Saat perasaan "kurang" itu mulai merayap, kita diingatkan oleh ayat Al-Qur'an rasanya seperti pelukan hangat  dan pengingat untuk hati yang lelah. 

            Q.S An-Nisa ayat 32

       " Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah terhadap sebagian kamu atas sebagian yang lain" 

Ayat diatas bukan hanya sebuah larangan tetapi sebuah penawar jiwaAllah tahu betul sifat dasar manusia yang mudah tergiur dengan apa yang dimiliki orang lain. Lewat ayat ini, kita seolah diingatkan.

 "Tenang ya, porsi rezeki, kebahagaiaan,  dan ujian setaip orang sudah diukur dengan sangat pas. Apa yang ada pada orang lain, dirancang khusus untuk mereka. Dan apa yang Allah kasih untukmu yangterbaik dalam perjalananmu" Ketika kita menyadari bahwa garis start dan finish orang itu berbeda, rasa iri perlahan luntur dan berganti dengan rasa syukur. 

Kalau kamu merasa overthingking atau merasa berkecil hati gara-gara sosial media, Coba deh lakukan 3 hal ini:

  1. Lakukan Digital Detox Secukupnya. Kalau merasa feed seseorang mulai memicu rasa insecure-mu, tidak apa-apa banget untuk menekan tombol mute atau unfollow. Jaga kesehatan mentalmu dulu.
  2. Ubah "iri" menjadi Do'a. Kalu melihat kebahagiaan orang lain coba belajar mengucapkan "Masyaallah, ikut seneng. semoga Allah juga menudahkan jalanku. Mengubah rasa iri menjadi doa akan mengalirkan energi positif dalam hatimu.
  3. Catat 3 hal yang kamu Syukuri hari ini. Bisa bernapas lega, makan makanan favorit, atau sekedar punya waktu istirahat adalah kemenangan kecil yang berharga. Fokus dengan apa yang ada ditanganmu, bukan yang belum ada.

Membaca dan menyadari hal ini rasanya legiiit banget dihati!. Kita jadi menyadari bahwa hidup ini bukanlah ajang balap lari dengan orang lain, kamu tidak kekurangan, kamu tidak ketinggalan. Kamu hanya berjalan diatas taqdir dan waktumu sendiri yang sudah dirangkai sebegitu indah. 

Jadi, tarik nafas dalam-dalam, senyum, dan ingat: kamu sudah cukup, dan perjalananmu bernilai. 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengorbanan Sunyi Yang Dianggap Merusak Citra Keluarga

Apakah Dia Benar-benar Cinta atau Hanya Ingin mengontrolmu? Kenali Tanda dan kebiasaan 'Belittling' Pada Pasangan

Menemukan Safe Place: Saat Hubungan Menjadi Tempat Paling Nyaman Untuk Bercerita