Ketika Cinta Mengalahkan Gengsi : Dorongan Psikologis Di Balik Keputusan Ibu

 

Suasana sore hari yang adem nan damai sedangku nikmati. Angin yang semriwing. Kicauan burung silih berganti. Aku Duduk santai dengan tangan memegang buku bacaan. Padahal, ga cuma fokus dengan tulisan, Mataku sesekali memandang hamparan sawah yang menyejukan mata dan pikiran. Dengan ditemanni kopi panas, membuat me time menjadi sempurna. ya! spot place terfavorit dirumah. Aku biasa gunakana untuk murojaah atau ngopi sore. 

"Assalamualaikum" suara laki-laki terdengar dari luar. Segera aku beranjak dari kenyamananku dan berjalan menuju pintu utama. Itu suara suamiku yang baru pulang kerja. "wa'alaikumsalam" jawabku. Segera aku menyambut kedatangannya kemudian menyaipkan hidangan untuknya. Suamiku langsung bergegas bersih-bersih sebelum kita sholat magrib berjama'ah. Setelah sholat, kita makan bersama diteras belakang rumah. Aku memulai pembicaraan "gimana tadi kerjanya ka?" langsung dijawab sama dia (Ya..terkadang emang perlu sih memulai pembicaraan baik tanyain tadi ditempat kerja gimana? bisa juga tanya ada cerita apa nih hari ini? ya karena terkadang pasangan itu hanya perlu "ditanya" sama pasanganya tanpa dihakimi iya ga sih?) " dikantor tadi ada certa. Sebelumnya aku cari helm second di marketplace FB terus aku chattan sama yang punya helm, kamu tau harganya berapa 50.000. dikira aku chattan sama seorang laki-laki eh ternyata apa? tadi siang ada ibu yang sedang bawa bayi dan satunya lagi perempuan masih remaja datang ke kantor nanyain, punten pak katanya ada yang mau beli helm saya ini buat beli susu anak saya. Sebenarnya helmnya masih dipake suami saya, tapi ya gimana lagi ya butuh untuk anak saya. Ya Allah, disitu hatiku langsung tersentuh banget dan ya! hebatnya perempuan, kalau demi anaknya, apapun akan diusahakan. terus aku jawab " iya bu, saya orang yang mau beli helm ibu" dan yang lebih ngrentesin hati saya apa? ibu yang jual helmnya tanya "pak, gapapa ya 50.000?" (mungkin yakinin aku kalau harganya gapapa kan jadi dibeli) " iya bu saya beli 50.000". (saat itu, saya ga peduli bagaimana ibu itu jelasin keadaan helmya, yang saya ingat adalah "uangnya buat beli susu anaknya yang sedang digendong sambil ngemutin dot." Ya Allah!) "makasih banyak ya pak udah bantu, ini helmnya." kata ibu pemilik helm. 

Setelah selesai cerita, aku bilang "Makasih ya ka..., sudah bantu orang yang minta tolong apalagi uangnya buat beli susu anaknya." dijawab sama dia " ya...selagi kita bisa berbagi, ya kita lakukan. dan tetap bersyukur ya apapun keadaan kita". Cerita sore hari ini banyak pelajaran yang aku dapat salah satunya kadang kita membeli itu, bukan saja tentang "butuh terhadap banrang atau produknya, ada juga yang dengan cara ini aku bisa membantunya tanpa menyinggung perasaannya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengorbanan Sunyi Yang Dianggap Merusak Citra Keluarga

Apakah Dia Benar-benar Cinta atau Hanya Ingin mengontrolmu? Kenali Tanda dan kebiasaan 'Belittling' Pada Pasangan

Menemukan Safe Place: Saat Hubungan Menjadi Tempat Paling Nyaman Untuk Bercerita