Ucapan Yang Membunuh Rasa Aman
Sebuah hubungan, terutama pernikahan dibangun diatas rasa percaya dan terlindungi. Ketika seorang istri memeluk erat suaminya diatas sepeda motor suaminya yang melaju kencang. Itu bukan sekedar urusan jarak dan kecepatan. Itu adalah bentuk penyerahan diri secara utuh. Ada keyakinan bahwa laki-laki yang memegang stang didepanya akan menjaga nyawanya dengan segenap jiwa.
Namun, bagaimana jika dalam ketakutan yang mencekam, saat permohonan perlindungan itu diucapkan, balasan yang diterima justru kalimat dingin "biarin kalau kamu sampai mati juga"
Kalimat itu berhasil meruntuhkan seluruh rasa aman yang dipupuk bertahun-tahun. Seketika, angin malam terasa lebih dingin. Air mata yang menetes bukan lagi tentang rasa takut pada kecepatan, melainkan ratapan atas realita pahit bahwa sosok yang diandalkan tidak peduli terhadap keselamatan jiwa pasanganya. Ucapan itu seperti palu hakim yang mengetok vonis matinya rasa percaya.
Kerap kali, kata-kata yang membunuh rasa aman tidak berhenti dijalan raya. Ia berlanjut diruang-ruang sempit di kehidupan sehari-hari, mulai dari tuduhan, memutar balikan fakta, hingga pelemparan kesalahan yang bertubi-tubi, Ketika setiap masalah ditarik untuk menyalahkan pihak yang rentan. Hati yang mulanya sabar perlahan mulai mengeras.
Setelah rasa aman itu terbunuh, apa yang tersisa? Yang tersisa adalah jarak. Sebuah jarak tak kasat mata yang terbentang meskidua tubuh berada diatap yang sama. Tak ada lagi keinginan untuk berlindung, Tak ada lagi rasa bangga untuk mengandalkan. Yang ada hanyalah insting untuk menyelamatkan diri sendiri.
Ucapan kasar atau acuh mungkin diniatkan sebagai luapan emosi sesaat bangi yang mengucapkanya. Namun bagi yang mendengarkan, itu adalah luka permanen. Sebab, ketika rasa aman sudah sirna, rumah tak lagi menjadi tempat pulang, melainkan tempat bersembunyi sambil menunggu waktu untuk bangkit kembali.

Komentar
Posting Komentar